Kamis, 13 November 2014

Biografi AHMAD DHANI

Nama lahir : Ahmad Dhani Prasetyo
Nama lain : Dhani Manaf
Lahir  : 26 Mei 1972 Surabaya, Indonesia
Genre : Rock, pop
Pekerjaan : Penyanyi, multi-instrumentalis, pencipta lagu, komposer, produser rekaman
Instrumen : Vokal, gitar, kibor, drum
Label : Aquarius Musikindo, Republik Cinta       Records
Situs web : www.ahmaddhani.com

Ahmad Dhani Prasetyo (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 26 Mei 1972; umur 42 tahun) atau yang lebih dikenal dengan Ahmad Dhani adalah seorang musisi rock dan pengusaha berkebangsaan Indonesia. Ia merupakan pendiri dan pemimpin grup musik Dewa 19 yang merupakan salah satu band paling sukses sepanjang dekade 1990-an dan 2000-an. Ia juga telah mencetak beragam karya yang berhasil mengorbitkan banyak penyanyi dan grup musik. Dhani juga merupakan pendiri dan pimpinan dari Republik Cinta Management. Dhani dikenal sebagai tokoh yang kontroversial dan sering memancing pro dan kontra. Ia juga dikenal sebagai musisi dengan eksperimentasi musik dan lirik puitis yang mengutip kata-kata mutiara dari pujangga terkenal. Majalah MTV Trax edisi perdana tahun 2002 menobatkan Dhani sebagai salah satu "25 Musisi/Grup Paling Berpengaruh dalam Musik Indonesia. Majalah Rolling Stone juga menempatkannya ke dalam daftar "The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa. Ahmad Dhani adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pernikahan Eddy Abdul Manaf yang merupakan seorang diplomat berdarah Sunda, dengan Joyce Theresia Pamela Kohler, seorang Indonesia keturunan Yahudi Ashkenazi. Kakeknya, Jan Pieter Friederich Kohler adalah keturunan Yahudi Ashkenazi lahir di Hindia Belanda pada tahun 1883. Kakak tiri Dhani, Dadang S. Manaf adalah musisi Indonesia dan merupakan pengaruh besar pada minat musik Dhani sejak masa kecilnya. Ayah Dhani membelikannya keyboard ketika ia masih muda dan membayar untuk les musik, sangat membujuk dia dan berharap bahwa Dhani akan unggul dalam hal musik klasik. Dia sangat terpengaruh oleh band rock Inggris Queen.


sumber : http://id.wikipedia.org

Biografi Vino G Bastian



Lahir :24 Maret Jakarta, Bendera Indonesia Indonesia

Pekerjaan : aktor, model

Agama : Islam













Vino Giovani Bastian (lahir di Jakarta, 24 Maret 1982; umur 32 tahun) adalah seorang aktor film asal Indonesia. Vino adalah putra bungsu dari Bastian Tito,
penulis cerita silat yang terkenal lewat seri Wiro Sableng. Vino merupakan sarjana teknik kimia.
Mulai awal karir dibangku SMP, vino mulai bermain musik sebagai penabuh drum.
Ia kemudian menjadi seorang model, pada tahun 2004 melakukan debutnya sebagai aktor lewat film 30 hari mencari cinta. Dalam film arahan sutradara Upi Avianto tersebut, Vino memerankan karakter seorang pria yang ternyata homo. Film perdana Vino tersebut membuat Erwin Arnada, direktur Rexinema, untuk memasang kembali Vino dalam film Catatan Akhir Sekolah (2005) arahan sutradara Hanung Bramantyo. Dengan arahan sutradara Upi Avianto, Vino bermain dalam film Realita Cinta dan Rock'n Roll (2006). Film produksi Virgo Putra Film tersebut dibintanginya bersama Herjunot Ali dan Nadine Chandrawinata. Tawaran film pun menyusul secara deras kepadanya, di antaranya Pesan Dari Surga (2006) dan remake Badai Pasti Berlalu (2007). Ia meraih penghargaan FFI sebagai Best Actor dan penghargaan Indonesia Movie Awards sebagai Favorite Actor, Best Couple dan Favorite Couple (bersama Fahrani) untuk perannya dalam Film Radit dan Jani.
 Tahun 2009 Vino berhasil menggeser Tora Sudiro dari puncak dan menempati peringkat pertama aktor film Indonesia dengan bayaran termahal (Indonesia's Highest-Paid Actor) dengan honor Rp 250 Juta per film. Kini Vino telah menikah dengan artis Marsha Timothy pada tangga (sabtu, 20 oktober 2012).

sumber : id.wikipedia.org/ , http://biografivinogbastian.blogspot.com

Biografi Andy Flores Noya



Nama Lengkap : Andy Flores Noya

Agama : Kristen

Tempat Lahir : Surabaya, Indonesia

Tanggal Lahir : Minggu, 6 November 1960

Warga Negara : Indonesia








Sebenarnya Andy tidak diterima kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik tersebut sebab perguruan tinggi tersebut tidak menerima lulusan STM. Namun karena tekadnya yang kuat untuk menjadi seorang wartawan, membuat Andy berusaha menemui Rektor Sekolah Tinggi Publisistik saat itu, yaitu Bapak Ali Mochtar Hoeta Soehoet dan memohon persetujuan untuk mengikuti perkuliahan di perguruan tinggi pilihannya itu. Sang rektor akhirnya luluh dan memberikan kesempatan kepada Andy untuk mengikuti tes masuk, dengan syarat harus ada surat rekomendasi dari Dirjen Pendidikan Tinggi. Selain itu, prestasi nilai mata kuliah Andy juga harus selalu bagus agar ia tidak dikeluarkan. Ternyata Andy berhasil mempertahankan prestasinya sehingga ia berhasil melanjutkan masa perkuliahannya.
Andy pertama kali terjun sebagai reporter pada 1985. Saat itu beliau membantu majalah TEMPO untuk penerbitan buku Apa dan Siapa Orang Indonesia ketika ia masih kuliah di Sekolah Tinggi Publisitik (STP) Jakarta.
Andy kemudian diajak bergabung oleh Lukman Setiawan, pimpinan di Grafitipers, salah satu anak usaha TEMPO dalam harian ekonomi Bisnis Indonesia yang pada tahun 1985 itu hendak terbit. Oleh karena itu, Andy tercatat sebagai 19 reporter pertama di harian itu. Baru dua tahun di Bisnis Indonesia, Andy kemudian diajak untuk memperkuat majalah MATRA yang baru diterbitkan oleh TEMPO oleh Fikri Jufri, seorang wartawan senior majalah TEMPO, sehingga kemudian ia bergabung bersama MATRA.
Saat ia masih bersama MATRA, pada tahun 1992 datang tawaran dari Surya Paloh, pemilik suratkabar Prioritas yang waktu itu dibredel. Surya Paloh mengajak Andy untuk bergabung dengan koran Media Indonesia yang mereka kelola. Sejak itulah Andy kembali ke dunia suratkabar. Dalam perjalanan kariernya, Andy pernah menjadi host program Jakarta Round Up dan Jakarta First Channel di Radio Trijaya selama lima tahun dari tahun 1994 sampai 1999.
Pada 1999, stasiun televisi swasta nasional RCTI menghadapi masalah pergolakan di kalangan wartawan program berita Seputar Indonesia. Hal ini berkaitan dengan adanya ketentuan yang mengharuskan PT Sindo, anak usaha RCTI yang menaungi Seputar Indonesia, untuk bergabung dengan RCTI sebagai induk. Andy diutus untuk membantu bersama wartawan senior Djafar Assegaff. Tugas utama mereka adalah memimpin Seputar Indonesia sekaligus memuluskan proses transisi ke RCTI.
Stasiun televisi Metro TV mendapat izin siarannya pada tahun 2000. Surya Paloh memanggil Andy kembali untuk memimpin Metro TV sebagai pemimpin redaksi. Tiga tahun kemudian pada tahun 2003, Andy ditarik kembali ke Media Indonesia. Kali ini ia menjadi pemimpin redaksi di surat kabar umum terbesar kedua di Indonesia itu.
Saat pemimpin redaksi Metro TV Don Bosco mengundurkan diri pada awal tahun 2006, Andy diminta merangkap menjadi pemimpin redaksi Metro TV menggantikan Don Bosco. Saat itu Andy telah menjadi wakil pemimpin umum di Media Indonesia.
Saat ini, Andy F. Noya telah menjadi pembawa acara terpopuler "Kick Andy" yang ditayangkan di Metro TV. Acara ini selalu menjadi sorotan publik dan disukai banyak orang karena banyak memberikan edukasi dan fakta.
Oleh: Ratri Adityarani

sumber : http://id.wikipedia.org , http://profil.merdeka.com , http://shadowness.com

DENIAS,Senandung Diatas Awan


Judul Film  : Denias, senandung di atas awan
Sutradara  : John De Rantau
Pemeran  : Albert Fakdawer; Ari Sihasale; Audrey Papilaya; Mathias Muchus; Marcella Zalianty; Michael Mohede 
Publikasi  : Jakarta: Alenia Pictures - EC Entertainment, 2006
Sumber  :Http://www.kapanlagi.com



Di balik kehidupan alam dan kekayaan sumber daya alam serta keunikan kehidupan suku-suku asli, tanah papua ternyata menyimpan satu kisah yang mengisaratkan keteguhan hati seorang anak manusia untuk berjuang dan berpetulang menghadapi setiap tantangan dan kesempatan menuju hidup yang baru. Film bertajuk DENIAS, SENANDUNG DI ATAS AWAN, ini bercerita tentang sosok kehidupan Denias (Albert 'AFI Junior' Fakdawer) yang terlahir sebagai anak seorang petani dari sebuah suku yang hidup di pedalaman di kampong Arwanop. Film besutan sutradara John De Rantau ini juga menampilkan beragam sisi budaya perjalanan hidup seorang manusia papua, mulai dari upacara memakai koteka, upacara duka mandi Lumpur dan potong jari. Dunia Denias sendiri pada awalnya digambarkan tak beda jauh dengan anak-anak desa seumurnya, dunia Denias hanya bermain dan bersekolah serta membantu ayah di ladang. Semua sama, hanya kepekaan dan kekuatan hati yang membuat Denias berbeda. Denias tak bisa melupakan pembicaraan dan nasehat orang tua seputar betapa pentingnya sekolah. Betapa luas dunia yang bisa dimasukinya dengan bersekolah yang bisa membuatnya menjadi pintar. Demi bisa mengenyam pendidikan, Danias rela berjalan kaki seorang diri selama sepuluh hari melewati gunung, ngarai, hutan dan sungai. Sayang, setibanya di sekolah yang dituju, Danias tak bisa langsung masuk ke sekolah tersebut. Namun niat dan kesungguhan Danis mengetuk hati seorang guru (Mathias Muchus), dan dengan kebaikan dan perhatian Pak Guru, Danias bisa masuk ke sekolah dan menikmati nikmatnya duduk di bangku sekolah. Tak terkirakan betapa bahagia hati Danias. Sayang, hidup tak semulus lengkungan pelangi yang indah di kaki gunung Jawawijaya. Momentum hidup Denias seakan berhenti saat rentetan peristiwa duka menerpanya. Mama Denias (Audry Papilaja) yang selama ini menjadi salah satu penyemangat hidupnya telah tiada ditelan tragedi kebakaran yang menghanguskan honai keluarga mereka. Kepergian mama Denias disusul dengan pulangnya Pak Guru ke tanah jawa karena isterinya yang sakit keras. Padahal pak Guru lah yang selama ini selalu menyediakan kesempatan untuk belajar sekaligus selalu menantang Denias untuk mengerjakan soal yang lebih sulit. Pak guru juga yang membukakan mata Denias bahwa anak dari pedalaman papua bisa maju dan juga pintar. Yang pasti, DENIAS, SENANDUNG DI ATAS AWAN mampu memberikan warna lain dalam khasanah perfilman tanah air. DENIAS ringan, mudah dicerna dan bisa ditonton semua anak. DENIAS juga memberikan sebuah kekuatan, kekayaan dan keindahan alam Papua yang terlihat sengaja dieksploitasi Alenia Pictures. Yang pasti DENIAS sukses memberikan tontonan menghibur dan sarat nilai budaya Indonesia, dan benar-benar dipersembahkan untuk anak Indonesia.